Mengangkat Tangan Dalam Berdoa Setelah Shalat adalah Bid’ah
Habib Munzir mengangkat tangan dalam berdoa
Sebagian orang mengatakan bahwa mengangkat tangan dalam berdoa setelah shalat adalah bid’ah (dholalah). Hal ini karena sempitnya pemahaman agama mereka. Mereka berpatokan bahwa semua yang tak ada contohnya dari Rasul adalah bid’ah dholalah, tanpa melihat dalil umum.
Jika mereka menerapkan dengan konsisten pola berfikir mereka, maka pastilah mereka membid’ahkan pula kebiasaan kaum Muslimin saat ini, termasuk mereka, ketika melepaskan alas kaki di luar Masjid. Tapi nyatanya mereka juga ikut menanggalkan alas kaki mereka di luar Masjid.
Lalu bagaimana dengan mengangkat tangan dalam berdoa setelah shalat ini? Apakah ia bisa dikatakan bid’ah dholalah? Ataukah ia merupakan sunnah?
Dalam banyak hadits diriwayatkan bahwa Nabi berdoa setelah shalat. Mereka berkata, “Tetapi tidak diriwayatkan bahwa Nabi mengangkat tangan.” Tetapi ingat, dalam riwayat-riwayat itu juga tidak diriwayatkan bahwa Nabi tidak mengangkat tangan, dan tidak ada riwayat yang melarang mengangkat tangan dalam berdoa setelah shalat. Lalu pertanyaannya adalah: Apakah Nabi mengangkat tangan ketika berdoa setelah shalat?
Kita lihat dalil umum yang satu ini:
عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى الله عَليْهِ وسَلَّمَ : إِذَا دَعَوْتَ اللَّهَ , فَادْعُ بِبَاطِنِ كَفَّيْكَ ، وَلاَ تَدْعُ بِظُهُورِهِمَا ، فَإِذَا فَرَغْتَ , فَامْسَحْ بِهِمَا وَجْهَكَ
Dari ibnu Abbas, berkata: Bersabda Rasulullah shollallohu ‘alayhi wa sallam: “Jika engkau meminta (kebaikan) kepada Allah, maka mintalah dengan telapak tanganmu, dan janganlah engkau meminta dengan punggung kedua tanganmu. Jika telah selesai, maka usaplah dengan kedua telapak tanganmu itu akan wajahmu.” [Sunan ibnu Maajah no.1181,3866]
Mereka beranggapan bahwa Nabi tidak mengangkat tangannya dalam berdoa, kecuali ketika shalat istisqa, sehingga mengangkat tangan di luar shalat istisqa adalah bid’ah. Mari kita lihat atsar berikut ini:
عَنْ أَبِي عُثْمَانَ، قَالَ: كَانَ عُمَرُ يَقْنُتُ بِنَا بَعْدَ الرُّكُوعِ، وَيَرْفَعُ يَدَيْهِ حَتَّى يَبْدُوَ ضَبْعَاهُ، وَيُسْمَعَ صَوْتُهُ مِنْ وَرَاءِ الْمَسْجِدِ
Dari Abu ‘Utsman (an-Nahdhi), berkata: ‘Umar (bin Khaththab) berqunut dengan kami setelah ruku’, dan mengangkat kedua tangannya sehingga tersingkap kedua dhob’anya. Dan terdengar suaranya dari belakang Masjid. [HR. Ibnu Abi Syaibah no.7041]
Dhob’a adalah lengan dari sikut sampai bahu. Artinya, Sayyidina Umar mengangkat tangannya dengan tinggi hingga lengan baju beliau turun dan tersingkaplah dhob’anya. Padahal itu adalah ketika berqunut dalam shalat Shubuh, bukan ketika istisqa. Dapatkah kita katakan bahwa Sayyidina Umar itu ahlul bid’ah? Tentu saja tidak.
Lalu apa makna hadits Anas bin Malik yang mengatakan bahwa beliau tidak melihat Nabi mengangkat tangannya ketika berdoa hingga terlihat ketiaknya yang putih, kecuali ketika istisqa?
1. Sayyidina Anas mungkin tidak pernah melihat Nabi mengangkat tangannya setinggi itu dalam berdoa. Tetapi bukan berarti Nabi tak pernah mengangkat tangan dalam berdoa. Nabi mengangkat tangan dalam berdoa dalam kesempatan lain, tetapi tidak setinggi itu.
2. Tidak melihatnya Sayyidina Anas tidaklah dapat dijadikan patokan. Sangat mungkin shahabat lain melihatnya. Dari mana Sayyidina Umar mencontoh kalau bukan dari Nabi?
3. Kalau pun Nabi tidak mengangkat tangannya setinggi itu selain dalam istisqa, maka perbuatan Sayyidina Umar menjadi pelajaran bagi kita agar kita tidak picik dalam memahami hadits.
Tak ada satu penjelasan pun mengenai hadits tersebut yang menyatakan bahwa Nabi tak pernah mengangkat tangan kecuali dalam istisqa, kecuali penjelasan dari mereka yang sempit ilmunya.
Menurut Imam Nawawi, persoalannya bukanlah tidak mengangkat tangan dalam berdoa di luar istisqa, bahkan justeru ada banyak hadits yang menyatakan bahwa Nabi mengangkat tangannya ketika berdoa di luar istisqa, setidaknya ada 30 hadits shahih yang menyatakan bahwa Nabi shollallohu ‘alayhi wa sallam mengangkat tangannya dalam berdoa di luar istisqa. (Lihat Syarh an-Nawawi ‘ala Shahih Muslim VI:190)
وَلَيْسَ الْأَمْرُ كَذَلِكَ بَلْ قد ثبت رفع يديه ص فِي الدُّعَاءِ فِي مَوَاطِنَ غَيْرِ الِاسْتِسْقَاءِ وَهِيَ أَكْثَرُ مِنْ أَنْ تُحْصَرَ وَقَدْ جَمَعْتُ مِنْهَا نَحْوًا مِنْ ثَلَاثِينَ حَدِيثًا مِنَ الصَّحِيحَيْنِ أَوْ أحدهما
Maka dalam hal ini, kita kembali kepada dalil umum bahwa Nabi mengangkat tangan dalam berdoa dan menganjurkan kita untuk mengangkat tangan dalam berdoa. Selama tak ada larangan untuk mengangkat tangan dalam berdoa, maka dalil umum itu tetap berlaku, kecuali ada takhshishnya. Dan hadits Anas bin Malik tak dapat dijadikan takhshish. Karena persoalannya bukanlah tidak mengangkat tangan di luar istisqa, tetapi Anas tidak melihat Nabi mengangkat tangan setinggi itu dalam berdoa kecuali dalam istisqa. Tetapi Umar mungkin melihat beliau shollallohu ‘alayhi wa sallam mengangkat tangan setinggi itu dalam berdoa di luar istisqa. Jika Nabi memang tak pernah mengangkat tangan setinggi itu di luar istisqa, maka perbuatan Sayyidina Umar menjelaskan bolehnya mengangkat tangan tinggi-tinggi di luar istisqa walau pun Nabi tak mencontohkan.
ثُمَّ رَفَعَ بِيَدِهِ حَتَّى رَأَيْنَا عُفْرَةَ إِبْطَيْهِ اللَّهُمَّ هَلْ بَلَّغْتُ اللَّهُمَّ هَلْ بَلَّغْتُ ثَلَاثًا
Kemudia Beliau mengangkat tangan Beliau sehingga terlihat oleh kami ketiak Beliau yang putih, (dan berkata): “Ya Allah bukankah aku sudah sampaikan, bukankah aku sudah sampaikan….” sebanyak tiga kali. [Shahih Bukhari no. 2407 dari Abu Humaid as-Sa'idiy]
عَنْ أَبِي عُثْمَانَ ، عَنْ سَلْمَانَ ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى الله عَليْهِ وسَلَّمَ قَالَ : إِنَّ رَبَّكُمْ حَيِيٌّ كَرِيمٌ ، يَسْتَحْيِي مِنْ عَبْدِهِ أَنْ يَرْفَعَ إِلَيْهِ يَدَيْهِ ، فَيَرُدَّهُمَا صِفْرًا
Dari Abu ‘Utsman (an-Nahdhi), dari Salman (al-Farisi), dari Nabi shollallohu ‘alayhi wa sallam, bersabda: Sesungguhnya Rabbmu itu Pemalu yang Mahadermawan, Dia malu terhadap hamba-Nya yang mengangkat tangannya kepada-Nya, lalu menurunkan kembali kedua tangannya dengan hampa. [Sunan ibnu Maajah no.3865, Shahih ibnu Hibbaan no.876, Sunan at-Tarmidzi no. 3556, Sunan Abu Dawud no.1488]
Hadits di atas menunjukkan bahwa mengangkat tangan merupakan salah satu adab dan salah satu sebab terqabulnya doa. Karena Allah tidak akan membiarkan hamba-Nya yang mengangkat tangan untuk meminta kepada-Nya itu turun tangannya dengan tangan hampa, melainkan Allah mengabulkan permohonannya itu. Allah malu jika hamba-Nya tidak mendapatkan apa yang ia mohon, sedangkan ia telah mengangkat tangannya di hadapan-Nya.
Jika ada seorang dermawan yang pemalu didatangi seorang pengemis, lalu pengemis itu menengadahkan tangannya kepada si dermawan pemalu itu, apakah si dermawan pemalu akan membiarkan pengemis itu berlalu dengan tangan kosong? Allah adalah Yang Mahadermawan lagi Pemalu.
03.29
al-hidayah
Posted in: 


BERDOA adalah otak ibadat. Begitulah besarnya kedudukan doa. Lagi banyak kita mohon bertambah sayang Allah kepada kita dan ia berbeza dengan manusia, lagi banyak kita minta, lagi banyak kita dimarahi atau dimaki.
Doa sifat perhambaan manusia dan mereka diciptakan untuk hamba-Nya. Supaya doa mudah diterima kita patut meneliti serta mengetahui waktu yang sangat mustajab untuk berdoa antaranya ialah:
Pada waktu sepertiga malam iaitu waktu terakhir, ketika orang lain nyenyak tidur. Allah s.w.t berfirman, maksudnya: “Mereka (muttaqin) sedikit sekali tidur pada waktu malam dan pada akhir malam, mereka memohon ampun (kepada Allah)” (Surah Adz-Dzariyat ayat 18-19).
Waktu antara azan dan iqamah iaitu ketika menunggu solat berjemaah. Sayangnya waktu mustajab ini sering disalahgunakan sesetengah umat Islam yang kurang mengerti sunnah sehingga diisi dengan hal tidak baik dan tidak dianjurkan Islam, membicarakan urusan dunia yang tidak bernilai ibadat.
Pada waktu sujud iaitu sujud di dalam solat atau sujud lain yang diajarkan Islam seperti sujud syukur, sujud tilawah dan sujud sahwi.
Dalilnya adalah hadis Abu Hurairah r.a, bahawasanya Rasulullah s.a.w bersabda, maksudnya: “Kedudukan hamba yang paling dekat dengan Tuhannya adalah ketika ia dalam keadaan sujud, maka perbanyaklah doa” (Hadis riwayat Muslim).
Hadis Ibnu Abbas r.a, dia berkata: “Rasulullah s.a.w membuka tabir (ketika baginda sakit), sementara orang ramai sedang berbaris (solat) di belakang Abu Bakar r.a lalu Rasulullah s.a.w bersabda: “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya tidak ada lagi daripada mubasysyirat nubuwwah (khabar gembira kenabian) kecuali mimpi baik yang dilihat oleh seorang Muslim atau diperlihatkan untuknya. Ingatlah bahawasanya aku dilarang untuk membaca al-Quran ketika rukuk atau ketika sujud. Adapun di dalam rukuk, agungkanlah Allah dan adapun di dalam sujud, bersungguhlah berdoa, sebab (hal itu) segera dikabulkan bagi kamu” (Hadis riwayat Muslim).
Selepas solat fardu iaitu selepas melaksanakan solat wajib lima waktu termasuk selepas solat Jumaat. Allah berfirman, maksudnya: “Dan bertasbihlah kamu kepada-Nya di malam hari dan selesai solat” (Surah Qaaf ayat 40).
Oleh kerana itu, Imam Syafie dan pengikutnya menjelaskan, dianjurkan bagi imam dan makmumnya serta orang yang solat sendirian memperbanyakkan zikir, wirid dan doa selepas selesai solat fardu.
Dianjurkan membaca doa dengan perlahan kecuali jika makmum belum mengerti, imam boleh menguatkan bacaan agar makmum menirunya. Apabila mereka mengerti, kembalilah secara perlahan.
Pada waktu khusus tetapi tidak diketahui dengan pasti batasannya iaitu satu detik pada setiap malam dan setiap hari Jumaat.
Ini berdasarkan hadis Jabir r.a, dia berkata: “Saya mendengar Rasulullah s.a.w bersabda yang bermaksud: “Sesungguhnya di malam hari ada satu saat (yang mustajab), tidak ada seorang Muslim pun yang bertepatan pada waktu itu meminta kepada Allah kebaikan urusan dunia dan akhirat melainkan Allah pasti memberi kepadanya” (Hadis Riwayat Muslim).
Hadis Abu Hurairah r.a, Rasulullah s.a.w pernah menyebut hari Jumaat, baginda bersabda: “Di dalamnya ada satu saat (yang mustajab), tidaklah seorang hamba Muslim yang kebetulan waktu itu sedang mendirikan solat (atau menunggu solat) dan memohon kepada Allah sesuatu (hajat) melainkan Allah pasti mengabulkan permohonannya.” Nabi s.a.w mengisyaratkan dengan tangannya akan sedikitnya saat mustajab itu (Hadis riwayat al-Bukhari).
Di dalam hadis Muslim dan Abu Daud dijelaskan: “Iaitu waktu antara duduknya imam (khatib) sehingga selesainya solat (Jumaat).” Inilah riwayat yang paling sahih dalam hal ini.
Sementara dalam hadis Abu Daud yang lain, Nabi s.a.w memerintahkan agar kita mencarinya pada akhir waktu Asar. Waktu lain yang mustajab ialah sepertiga akhir malam, ketika hujan turun, waktu awal pagi ketika dengar ayam berkokok, ketika berpuasa, ketika bermusafir, bulan Ramadan dan pada 10 akhir Ramadan